Dalam tema PAPA77 tentang komunikasi ayah-anak, obrolan yang terasa buntu tak harus dibuka dengan pertanyaan yang lebih banyak. Kadang, langkah yang lebih membantu ialah berhenti sejenak, mendengarkan jawaban yang sudah ada, lalu memberi anak pilihan untuk melanjutkan atau berhenti dulu.

Dengarkan dulu sebelum mencari jalan keluar

Saat anak mulai bercerita, tahan dorongan untuk langsung menilai, mengoreksi, atau menawarkan solusi. Dengarkan sampai ia selesai, lalu tanggapi bagian yang benar-benar ia sampaikan. Jika ceritanya masih singkat, tak perlu buru-buru mengisi jeda dengan rentetan pertanyaan.

Ini bukan berarti ayah harus selalu setuju. Mendengarkan memberi ruang bagi anak untuk menyampaikan pandangannya sebelum ayah menyampaikan pandangan sendiri. Dalam uraian tentang pola asuh otoritatif, orang tua digambarkan mendukung kemandirian anak sambil tetap memberi batas, serta menyampaikan dan menerima pendapat dengan sikap penyayang dan ramah [1].

Pilih pertanyaan terbuka, satu per satu

Pertanyaan yang hanya meminta jawaban "ya" atau "tidak" bisa membuat percakapan cepat berhenti. Sebagai gantinya, gunakan pertanyaan yang memberi anak keleluasaan menentukan bagian mana yang ingin ia ceritakan. Misalnya: "Apa yang paling ingin kamu ceritakan tentang hari ini?" atau "Bagian mana yang paling kamu ingat?"

Ajukan satu pertanyaan, lalu tunggu. Jika anak menjawab singkat, responsilah jawabannya tanpa menganggapnya sebagai tanda bahwa ia harus segera bercerita lebih banyak. Dalam contoh hipotetis, anak berkata, "Biasa saja." Ayah bisa menjawab, "Oke. Kalau nanti ada bagian yang ingin kamu ceritakan, Ayah mendengarkan." Kalimat itu menjaga percakapan tetap terbuka tanpa menuntut jawaban saat itu juga.

Memberi ruang bukan berarti menghilang

Anak boleh belum siap bercerita. Ayah dapat mengakui pilihannya dan tetap menunjukkan kesediaan untuk mendengar di waktu lain. Daripada mendesak dengan "Kenapa tidak mau cerita?", coba tanyakan, "Kamu ingin cerita sekarang, atau lebih nyaman nanti?" Jika anak memilih nanti, biarkan jawaban itu berlaku; jangan mengulang pertanyaan dengan cara berbeda seolah-olah penolakan tadi belum didengar.

Ruang juga tidak sama dengan membiarkan semua hal tanpa batas. Uraian tentang pola asuh otoritatif menekankan dukungan terhadap kemandirian sekaligus adanya batas, sedangkan pola asuh otoriter digambarkan menggunakan kekuasaan penuh, pemaksaan, dan pengaturan ketat; hubungan yang kaku dalam pola tersebut disebut membuat komunikasi kurang terjalin [1]. Sebagai pegangan praktis, ayah bisa tegas pada batas yang perlu dijaga sambil tetap memberi anak kesempatan menyampaikan alasannya.

Jaga percakapan tetap terasa seperti percakapan

Jika ada hal yang perlu dibahas serius, sampaikan pokoknya dengan jelas, tetapi hindari mengubah setiap jawaban menjadi pemeriksaan. "Apa yang kamu pikirkan tentang itu?" membuka ruang berbeda dari "Kamu tahu itu salah, kan?" Pertanyaan pertama mengundang pandangan anak; pertanyaan kedua sudah mengarahkan jawabannya.

Obrolan tidak harus berakhir dengan semua masalah selesai. Ayah dapat menutupnya dengan merangkum apa yang ia dengar dan menyebutkan langkah berikutnya bila memang ada hal yang perlu ditangani bersama. Mendengar, bertanya dengan terbuka, dan menghormati jeda memberi percakapan kesempatan untuk berlanjut tanpa memaksa anak menyerahkan ceritanya sekaligus.

Sumber

  • [1] Wikipedia bahasa Indonesia — Pengasuhan anak. https://id.wikipedia.org/w/index.php?oldid=28395465&title=Pengasuhan_anak (diakses 2026-10-17).